Selasa, 25 Februari 2014

Dear, full Love

Dulu sering menghayal jadi seorang pengusaha sukses yang kaya raya. Apa yang aku inginkan semuanya bisa aku gapai. Hari ini aku berdiri di gedung yang tingginya mencapai seribu lima ratus meter dari tanah. Melihat dunia yang akhirnya bisa aku taklukan. Tak ada pekerjaan yang tidak sulit,  hampir semua hidup ini penuh tantangan. Sebelum aku sampai disini begitu banyak pengorbanan, pengorbanan usia yang aku habiskan tanpa seorang pendamping. Cukup sulit di terima bagi keluargaku karena hingga saat ini aku belum menikah. Lepas dari kegalauan keluargaku. Aku menikmati hari-hariku dengan bekerja. Memiliki pegawai mencapai tiga ribu enam ratus pekerja dengan lima cabang perusahaan mampu membuatku bersibuk ria.
Dalam suatu waktu pekerjaanku di bantu oleh orang-orang kepercayaanku. Ada sekretaris 1 namanya Veronika dan sekretaris 2 namanya pak Jamal. Mereka mengurus semua keperluan pekerjaanku, tapi menurutku masih kurang memanajmen. Hmm... baiklah aku membutuhkan asisten pribadi tapi dari dua puluh pelamar belum ada yang klik di hati. Seperti mencari pacar yang cocok dengan karakterku.
Kepenatanpun muncul menghampiri hari ini ingin free sejenak dari segudang aktifitas. Lagi2 vero mengirim pesan singkat mengingatkan akan meeting dengan para karyawan. Aku pikir-pikir hari ini aku ingin benar2 bebas. Kuputuskan untuk mengunjungi salah satu resto sekedar breakcoffie sejenak. Terdengar perbincangan seorang waitress dengan seorang gadis.
"Kenapa wajahmu lesu begitu? Tanya waitress.
"Kenapa sulit sekali menacari pekerjaan. Padahal kurang apa aku ini. Aku menarik, cerdas dan cantik..huuft", kata wanita itu kesal.
"Kurang beruntung saja mungkin. Bersabarlah. Kau memiliki potensi luar biasa, aku yakin kau pasti mendapat kan pekerjaan yang kau inginkan".
"Yaa mudahan doamu terkabulkan. Hmm.. aku lapar aku ingin makan",katanya sambil meloyor kedapur.
Wanita itu keluar Sambil membawa katongan di tangannya dan pamitan untuk pulang dengan tergesa-gesa.
"Hei ini berkasmu tertinggal", teriak waitress. Namun wanita itu tidak mendengar teriakan waitress tersebut. Kini giliranku yang beraksi.
"Mba, berapa bil saya",tanyaku kepada waitress lain.
Sang waitress menyodorkan bil yang aku minta dengan segera aku mengambil uang dan menyodorkannya kepada waitress tersebut.
Dengan penuh keberanian aku menghampiri waitress yang bicara dengan wanita tadi.
"Permisi..hmm..boleh saya tau wanita yang berbincang dengan anda tadi di sini?", tanyaku memulai obrolan.
"Oohh..wanita tadi ya? Namanya Alexandra Keyla",jawabnya sambil tersenyum. "Memangnya ada apa?", tanyanya lagi.
"Apa dia sedang mencari pekerjaan?", tanyaku lagi.
"Iya benar dia sedang mencari pekerjaan namun hingga saat ini dia belum mendapatkan panggilan. Padahal dia menarik tapi entah apa yang membuat ia belum memperoleh pekerjaan",kata waitress itu menjelaskan panjang kali lebar kali tinggi.
"Boleh saya lihat berkas lamarannya yang tertinggal tadi?", kataku singkat.
"Oh iya ini",kata waitress tadi sambil menyodorkan berkas lamaran wanita tadi.
Hmm.. menarik juga curriculum vitenya.
"Kebetulan saya HRD di kantor depan. Saya akan bawa berkas ini". Kataku tanpa fikir panjang.
"Waaahh... kebetulan sekali. Kalo bisa teman saya di terima di kantor anda ya", kata waitress itu penuh harap.
Aku pun hanya tersenyum dan segera beranjak dari dudukku. Namun aku kembali akan ingat sesuatu.
"Oh ya saya berharap anda tidak mengatakan kepada Alexandra dulu tentang berkas ini. Saya tidak mau memberikan harapan. Berkas ini masih perlu kami pelajari",kataku mengingatkan.
"Oke", katanya singkat dengan dengan senyuman penuh harap.
Tepat pukul tiga siang meeting dengan karyawan selesai. Berkas wanita tadi masih berada di tanganku.
"Pak jamal tolong bisa keruangan saya sebentar?",kataku kepada sekretarisku.
"Baik Presedir",kata pak Jamal dengan hormat.
Selang beberapa menit saja pak Jamal langsung meluncur keruangan kerjaku.
"Pak Jamal tolong carikan informasi secara detail dan akurat tentang wanita ini",kataku tanpa basa basi.
Pak Jamal membuka map yang ada di depannya. Tanpa banyak bertanya pak Jamal mengerti apa yang di inginkan bosnya.
"Baik presedir, saya akan segera mencari apa yang anda inginkan", kata Pak Jamal hormat dan segera undur diri.
Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mendapatkan informasi tentang Alexandra. Selang tiga hari saja laporan pak Jamal udah ada di meja kerjaku. Aku mengamati satu persatu kalimat di dalamnya. Good nice. Secepat kilat tanganku menyambar gagang telpon dan tersambungkan ke bagian HRD.
"Kamal, tolong keruangan saya sekarang!!",perintahku.
"Baik presedir", jawabnya hormat.
Kembali ku baca dan ku amati kertas2 ditanganku, sesekali aku tersenyum riang." Inilah orang yang aku cari",pikirku.
Terdengan suara ketokan pintu.
"Masuk", kataku tegas.
"Permisi presedir, ada yang bisa saya bantu?", tanya Kamal.
Ku menyodorkan map lamaran kerja Alexsandra.
"Tolong hubungi orang ini atas nama HRD. Saya yang akan menemuinya langsung diruang meeting", kataku tegas.
"Sekarang presedir?", tanyanya terbata2.
"Tahun depan. Ya iyalah sekarang. Gimana sih kamu ini", kataku dengan suara sedikit meninggi. Ku lirik jam tanganku menunjukkan pukul 9.30 pagi "oh iya jam 11 ini saya tunggu ya", kataku menutup pembicaraan.
"Baik presedir. Permisi", kata Kamal undur diri.
Setiap hari aku harus mengontrol jalannya pekerjaan setiap departemen. Berkeliling dengan beberapa General Manager masing2 departemen. Membicarakan progres persentasi perusahaan yang semakin pesat. Selain di ruangan formal perbincangan kami bisa dimana saja yang terpenting kontrol dan manajemen yang baik dari pimpinan harus tetap berjalan.
Terdengar suara handphone pak Jamal berdering. Kemudian terjadi obrolan singkat yang terdengar lirih.
"Maaf presedir pesan dari HRD, wanita itu sudah menunggu di ruang meeting", kata pak Jamal sambil mendekatkan diri ketelingaku.
Hanya satu kodeku yaitu menganggukkan kepala.
"Oke, kita akan lanjutkan nanti pembicaraan kita", kataku mengakhiri ekspedisi keliling2 kali ini. Dengan hormat para GM mempersilahkan kami pergi.
Tujuanku langsung ke ruang meeting. Di dalam ruang meeting terlihat Kamal berbincang dengan wanita itu. Sontak Kamal berdiri melihat kedatanganku di ikuti wanita itu juga ikut berdiri.
"Tinggalkan kami", kataku pada Kamal dan juga pak Jamal yang sedari tadi mengikuti. Mereka meninggalkan ruangan tanpa dengan hormat.
Wanita itu masih berdiri ditempatnya.
"Silahkan duduk",kataku mempersilahkan dan aku pun ikut duduk. "Saya sudah membaca surat lamaran anda", aku melanjutkan pembicaraan." Bagaimana? Apakah anda tertarik bergabung dengan perusahaan kami?", tanyaku meyakinkan.
"Maaf sebelumnya.. amm.. saya tidak tau bagaimana surat lamaran saya bisa masuk perusaahan ini. Tiba2 saya di telpon dan diminta segera melakukan interview", katanya menjelaskan dengan wajah kebingungannya.
Aku pun hanya diam dan sedikit tersenyum simpul melihat kebingungannya.
"Saya berfikir apakah saya benar2 di terima bekerja disini atau hanya ilusi saja. Apakah anda serius mempekerjakan saya presedir?", tanyanya tak percaya.
"Anda tidak perlu bingung dengan ini semua. Saya yakin dengan pilihan saya dengan mempekerjakan anda",kataku meyakinkan.
"Gaji anda Rp. 6,5 juta per bulan Pekerjaan anda tidak sulit, anda cukup di sisi saya dan mengatur schedule2 saya".
"Maksud anda?",tanyanya bingung.
"Anda cukup jadi assisten pribadi saya, karena saya membutuhkan assisten pribadi untuk mengatur schedule2 saya", kataku memberi penjelasan.
Terlihat wajah penuh pertimbangan disana. Dengan menatap wajahku dan dengan mantap ia berkata.
"Baik, saya akan bekerja untuk anda dan dengan kemampuan saya", katanya tegas dan terlihat senyum manisnya.

To be continue...... ♥♥♥♥

Tidak ada komentar:

Posting Komentar